Sejarah Desa

Menurut sejarah yang diceritakan secara anonim dan turun – temurun, cikal bakal Desa Kedalon adalah Danyang Singo Nyidro yang hidup semasa dengan Danyang [Yuyu Rumpung] [(Danyang kemaguwan)] dan [Kudo Suwengi] (Danyang Desa [Jembangan]). Masyarakat setempat mempercayai bahwa Singo Nyidro adalah penguasa sekaligus nenek moyang dari warga asli Desa Kedalon. Makam Singo Nyidro diyakini terletak di sebelah barat daya SMP Negeri 1 Batangan.

Desa Kedalon Kecamatan Batangan Kabupaten Pati memiliki sejarah penting tentang asal usul Desa, hal ini terkait keberadaan makam dowo yang diyakini sebagai cikal bakal Desa Kedalon, yaitu makam Simbah Singo Nyidro, menurut cerita turun temurun Simbah Singo Nyidro yang babat alas untuk dijadikan Desa. Karena babat alas terlalu lama, maka biar cepat Simbah Singo Nyidro mempunyai akal dengan membakar hutan dan yang kejatuhan langesnya itu akan menjadi daerah kekuasaanya. untuk menghormati leluhur, warga Desa Kedalon mempunyai kebiasannya menyembelih kambing di sekitar area makam sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rejeki yang diterima, dengan cara makan – makan bersama di tempat tersebut yang biasanya dilakukan pada hari Jum’at.

Selain itu Desa Kedalon Kecamatan Batangan Kabupaten Pati setiap tahunnya mengadakan bersih desa dimana setiap bersih desa pasti akan mengadakan pagelaran wayang kulit , Kenapa harus wayang kulit ? karena diyakini bahwa wayang kulit adalah pagelaran yang disukai oleh Simbah  Singo Nyidro. Jika sekali saja saat bersih desa tidak ada pagelaran wayang kulit maka warga desa meyakini bahwa desanya akan mengalami musibah, mungkin dengan dengan banyaknya warga desa yang terserang penyakit,Panen gagal dan sebagainya. Adapun pelaksanaan bersih desa dilaksanakan pada hari jumat pahing.

Warga desa Kedalon sebagian besar masih mengikuti tradisi desa . hal ini terlihat ketika ada warga desa yang menggelar acara pernikahan, maka pengantin harus mendatangi dan mengitari beberapa tempat yang dianggap keramat.Warga desa menyebut kegiatan ini dengan sebutan “ Nganten Ngarak” .Dimana jika tradisi ini tidak dilakukan maka warga desa meyakini bahwa nantinya pengantin akan mengalami musibah.